عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ اَبِى وَقَّاصٍ عَنْ اَبِيْهِ اَنَّهُ
سَمِعَهُ يَسْأَلُ اُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ: مَاذَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ ص
فِى الطَّاعُوْنِ؟ فَقَالَ اُسَامَةُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص:
Tampilkan postingan dengan label Halal Haram Dalam Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halal Haram Dalam Islam. Tampilkan semua postingan
Minggu, 07 Februari 2016
Sabtu, 30 Januari 2016
Jampi-jampi yang Dibolehkan
عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ اْلاَشْجَعِيِّ قَالَ: كُنَّا نَرْقِى فِى
اْلجَاهِلِيَّةِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ تَرَى فِى ذلِكَ؟ فَقَالَ:
اِعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ. لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ
شِرْكٌ. مسلم
Dari
‘Auf bin Malik Al-Asyja’iy ia berkata, “Dahulu kami biasa melakukan jampi-jampi
di masa Jahiliyah, lalu kami bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau
tentang yang demikian itu ?”. Rasulullah SAW menjawab,
“Perlihatkanlah dulu kepadaku bagaimana jampi-jampi kalian. Tidak mengapa menjampi selama tidak mengandung syirik”.
[HR. Muslim 4:1727]
عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيِّ اَنَّ نَاسًا مِنْ اَصْحَابِ رَسُوْلِ
اللهِ ص كَانُوْا فِى سَفَرٍ فَمَرُّوْا بِحَيٍّ مِنْ اَحْيَاءِ اْلعَرَبِ
فَاسْتَضَافُوْهُمْ فَلَمْ يُضِيْفُوْهُمْ. فَقَالُوْا لَهُمْ: هَلْ فِيْكُمْ
رَاقٍ؟ فَاِنَّ سَيِّدَ اْلحَيِّ لَدِيْغٌ اَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ:
نَعَمْ، فَاَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ،
فَاُعْطِيَ قَطِيْعًا مِنْ غَنَمٍ، فَاَبَى اَنْ يَقْبَلَهَا وَ قَالَ: حَتَّى
اَذْكُرَ ذلِكَ لِلنَّبِيِّ ص فَاَتَى النَّبِيَّ ص فَذَكَرَ ذلِكَ لَهُ. فَقَالَ:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ اللهِ مَا رَقَيْتُ اِلاَّ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ.
فَتَبَسَّمَ وَ قَالَ: وَ مَا اَدْرَاكَ اَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ ثُمَّ قَالَ خُذُوْا
مِنْهُمْ وَ اضْرِبُوْا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ. و فى رواية : فَجَعَلَ يَقْرَأُ
اُمَّ اْلقُرْآنِ، وَ يَجْمَعُ بُزَاقَهُ، وَ يَتْفُلُ فَبَرَأَ
الرَّجُلُ. مسلم
Dari
Abu Sa’id Al-Khudriy bahwasanya beberapa orang diantara shahabat Rasulullah SAW
sedang dalam perjalanan (musafir) lalu mereka melewati suatu kampung dari
kampung-kampung Arab.
Mereka berharap bisa menjadi tamu di kampung tersebut, tetapi penduduk kampung
itu tidak mau menerimanya. Lalu penduduk kampung tersebut bertanya kepada
mereka, “Apakah diantara kalian ada orang yang bisa menjampi
?”. Karena kepala kampung di sini baru terkena
sengatan. Seorang dari rombongan sahabat itu menjawab,
“Ya, ada”. Lalu shahabat tersebut datang kepada kepala
kampung tersebut dan menjampinya dengan
Surat
Al-Fatihah.
Ternyata kepala kampung itu sembuh, lalu shahabat tersebut diberi upah beberapa
ekor kambing. Tetapi shahabat yang menjampinya itu tidak mau mengambilnya dan
berkata, “Saya akan menyam-paikannya dulu kepada Nabi SAW”. Kemudian dia datang kepada Nabi SAW dan menceritakan hal tersebut
kepada beliau. Ia berkata, “Ya Rasulullah, demi Allah saya tidak menjampi
kecuali dengan membacakan surat
Al-Fatihah”. Maka Nabi SAW tersenyum dan bersabda, “Darimana kau tahu bahwa
surat
Al-Fatihah itu bisa untuk menjampi ?”. Lalu beliau
bersabda, “Ambillah (kambing-kambing itu) dari mereka dan ikutkan saya dalam
pembagian kalian”. Dan dalam riwayat lain disebutkan, shahabat itu membaca Ummul
Qur’an (Al-Fatihah) dan mengumpulkan ludahnya lalu meludahkannya, maka sembuhlah
kepala kampung itu.
[HR. Muslim 4:1727, Bukhari dan Ibnu Hibban. Dan di
dalam Ibnu Hiibban diterangkan bahwa kambing tersebut 30
ekor]
عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيِّ قَالَ: نَزَلْنَا مَنْزِلاً
فَاَتَتْنَا امْرَأَةٌ فَقَالَتْ: اِنَّ سَيِّدَ اْلحَيِّ سَلِيْمٌ لُدِغَ. فَهَلْ
فِيْكُمْ مِنْ رَاقٍ؟ فَقَامَ مَعَهَا رَجُلٌ مِنَّا. مَا كُنَّا نَظُنُّهُ
يُحْسِنُ رُقْيَةً. فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ فَبَرَأَ فَاَعْطَوْهُ
غَنَمًا، وَ سَقَوْنَا لَبَنًا فَقُلْنَا: اَكُنْتَ تُحْسِنُ رُقْيَةً؟ فَقَالَ:
مَا رَقَيْتُهُ اِلاَّ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ. قَالَ، فَقُلْتُ: لاَ
تُحَرِّكُوْهَا حَتَّى نَأْتِيَ النَّبِيَّ ص فَاَتَيْنَا النَّبِيَّ ص فَذَكَرْنَا
ذلِكَ لَهُ، فَقَالَ: مَا كَانَ يَدْرِيْهِ اَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ اِقْسِمُوْا وَ
اضْرِبُوْا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ. مسلم
Dari
Abu Sa’id Al-Kudriy, ia berkata, “Kami sedang
beristirahat di suatu tempat, tiba-tiba seorang wanita datang kepada kami dan
berkata, “Sesungguhnya kepala kampung kami tersengat kalajengking. Apakah
diantara kalian ada yang bisa menjampi ?”. Maka seseorang diantara kami berdiri lalu pergi bersama wanita
itu. Kami tidak menduga sebelumnya, bahwa teman kami itu pandai menjampi.
Lalu dia menjampi kepala kampung itu dengan membaca surat Al-Fatihah, maka sembuh. Lalu orang-orang kampung
memberinya kambing dan memberi kami minum susu. Kami
bertanya kepada teman kami, “Apakah engkau memang pandai menjampi ?”. Dia menjawab, “Aku hanya menjampinya dengan
surat
Al-Fatihah”. Aku (Abu Sa’id) berkata, “Jangan kalian apa-apakan dulu kambing itu
sebelum kita datang melapor kepada Nabi SAW”. Kemudian kami
datang kepada Nabi SAW dan menuturkan hal itu kepada beliau. Mendengar
penuturan kami beliau bersabda, “Bukankah tidak ada yang memberitahu, bahwa
surat
Al-Fatihah itu bisa untuk menjampi ? Bagilah kambing-kambing itu dan berilah aku bagian bersamamu”.
[HR. Muslim 4:1728]
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَأْمُرُنِى اَنْ
اَسْتَرْقِيَ مِنَ اْلعَيْنِ. مسلم
Dari
Aisyah ia berkata, “Rasulullah SAW pernah menyuruhku
untuk meminta jampi dari sakit mata”.
[HR. Muslim 4:1725]
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فِى الرُّقَى قَالَ: رُخِّصَ فِى اْلحُمَةِ وَ
النَّمْلَةِ وَ اْلعَيْنِ. مسلم
Dari
Anas bin Malik, ia berkata tentang menjampi,
“Diidzinkan untuk mengatasi racun, luka di lambung dan mata”.
[HR. Muslim 4:1725]
عَنْ اَبِى الزُّبَيْرِ اَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ
يَقُوْلُ: اَرْخَصَ النَّبِيُّ ص فِى رُقْيَةِ اْلحَيَّةِ لِبَنِى عَمْرٍو، قَالَ
اَبُو الزُّبَيْرِ: وَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُوْلُ: لَدَغَتْ
رَجُلاً مِنَّا عَقْرَبٌ وَ نَحْنُ جُلُوْسٌ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالَ رَجُلٌ:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَرْقِى؟ قَالَ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ اَنْ يَنْفَعَ
اَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ. مسلم
Dari
Abuz Zubair bahwasanya ia mendengar Jabir bin Abdullah
berkata, “Nabi SAW memberi idzin untuk menjampi ular kepada Bani ‘Amr”. Abuz
Zubair berkata, “Aku mendengar Jabir bin Abdullah berkata, “Seseorang diantara
kami tersengat kalajengking. Ketika itu kami sedang duduk bersama Rasulullah
SAW. Lalu ada orang bertanya, “Ya Rasulullah, bolehkah aku menjampinya ?” Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diantara
kalian sanggup menolong saudaranya (kawannya), hendaklah dia
lakukan”.
[HR. Muslim 4:1726]
عَنْ جَابِرٍ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنِ الرُّقَى فَجَاءَ آلُ
عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ،
اِنَّهُ كَانَتْ عِنْدَنَا رُقْيَةٌ نَرْقِى بِهَا مِنَ اْلعَقْرَبِ وَ اِنَّكَ
نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى. قَالَ: فَعَرَضُوْهَا عَلَيْهِ. فَقَالَ: مَا اَرَى
بَأْسًا مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ اَنْ يَنْفَعَ اَخَاهُ
فَلْيَنْفَعْهُ. مسلم
Keterangan
:
Dari
hadits-hadits diatas bisa dipahami bahwa ruqyah (jampi-jampi) yang tidak
mengandung syirik itu tidak dilarang.
Menurut riwayat Bukhari Nabi SAW biasa melakukan ruqyah ketika akan tidur, yaitu melaksanakan suwuk (menghembus pada kedua
tapak tangan yang disatukan dan membaca surat
Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas, lalu mengusapkan ke seluruh badan
semaksimalnya). Dan ketika Nabi SAW menjenguk orang sakit, beliau juga melakukan
ruqyah dengan membaca doa bagi orang
sakit.
Kamis, 28 Januari 2016
Haram mendatangi dukun, tukang ramal, tukang sihir, menganggap sesuatu penyebab kesialan, dan memakai jimat
Hadits-hadits
Nabi SAW :
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: اِجْتَنِبُوا
السَّبْعَ اْلمَوْبِقَاتِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ مَا هُنَّ؟ قَالَ:
اَلشِّرْكُ بِاللهِ، وَ السِّحْرُ، وَ قَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللهُ
اِلاَّ بِاْلحَقِّ، وَ اَكْلُ الرِّبَا، وَ اَكْلُ مَالِ اْليَتِيْمِ، وَ
التَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ، وَ قَذْفُ اْلمُحْصَنَاتِ اْلغَافِلاَتِ
اْلمُؤْمِنَاتِ. البخارى و مسلم
Rabu, 30 Desember 2015
Tentang Membuat Gambar dan Patung
Hadits
Nabi SAW :
عَنْ اَبِى طَلْحَةَ رض قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: لاَ تَدْخُلُ
اْلمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيْهِ كَلْبٌ وَ لاَ تَصَاوِيْرُ. البخارى
Selasa, 15 Desember 2015
Larangan Wanita Menyambung Rambut, Mencukur Alis, Menjarangkan Gigi, dan Bertatto
Islam
melarang para wanita menyambung rambut, mencabut bulu dahi atau mencukur alis,
mengikir giginya supaya jarang dan kelihatan cantik, dan wanita yang mencacah
(bertatto), berdasar hadits-hadits sebagai berikut
:
Larangan Laki-laki Menyerupai Wanita dan Wanita Menyerupai Laki-laki
Laki-laki
yang sengaja menyerupai wanita dalam berpakaian, berdandan, bertingkah laku,
berbicara, bergaya dan sebagainya adalah haram.
Demikian pula wanita yang menyerupai laki-laki, berdasarkan hadits-hadits
sebagai berikut :
Senin, 14 Desember 2015
Memakai Sutera dan Emas bagi Laki-laki
Tentang
hal tersebut banyak hadits Nabi SAW yang melarangnya.
Di antaranya sebagai berikut :
عَنْ عَلِيٍّ رض قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص اَخَذَ حَرِيْرًا
فَجَعَلَهُ فِى يَمِيْنِهِ وَ ذَهَبًا فَجَعَلَهُ فِى شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: اِنَّ
هذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُوْرِ اُمَّتِى. ابو داود و النسائى
Sabtu, 12 Desember 2015
Nabi SAW pernah melarang wadah yang biasa digunakan membuat/ menyimpan khamr, kemudian membolehkannya
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ وَفْدَ عَبْدِ الْقَيْسِ قَدِمُوْا عَلَى
النَّبِيِّ ص. فَسَأَلُوْهُ عَنِ النَّبِيْذِ، فَنَهَاهُمْ أَنْ يَنْبُذُوْا فِى
الدُّبَّاءِ وَالنَّقِيْرِ وَالْمُزَفَّتِ وَالْحَنْتَمِ. متفق عليه
Dari
'Aisyah RA, bahwa utusan Abdul Qais menghadap Nabi SAW, lalu mereka bertanya
kepada beliau tentang (membuat) minuman. Lalu Nabi SAW
melarang mereka membuat minuman di tempat (wadah) dari dubba', naqir, muzaffat
dan guci.
[HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim].
Larangan Duduk Pada Jamuan Makan yang di situ Disuguhkan/ Diedarkan Khamr
Berdasar
sunnah Nabi SAW, orang Islam diharuskan meninggalkan
tempat jamuan yang ada khamrnya, termasuk duduk-duduk dengan orang yang sedang
minum khamr.
Diriwayatkan
dari 'Umar bin Khaththab RA, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda :
Khamr Tidak Boleh Dijadikan Sebagai Obat
Tentang
menggunakan khamr sebagai obat itu, diterangkan dalam hadits sebagai berikut :
مَا اَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ اِلاَّ اَنْزَلَهُ شِفَاءً. البخارى صحيح
Allah
tidak menurunkan penyakit, melainkan Dia menurunkan penawar
baginya.
[HSR. Bukhari]
Rabu, 09 Desember 2015
Tentang dihapuskannya hukuman bunuh bagi peminum khamr yang mengulang hingga 4 kali
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ
شَرِبَ اْلخَمْرَ فَاجْلِدُوْهُ، فَاِنْ عَادَ فَاجْلِدُوْهُ، فَاِنْ عَادَ
فَاجْلِدُوْهُ، فَاِنْ عَادَ فَاقْتُلُوْهُ. قَالَ عَبْدُ اللهِ: اُئْتُوْنِى
بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ اْلخَمْرَ فِى الرَّابِعَةِ فَلَكُمْ عَلَيَّ اَنْ
اَقْتُلَهُ. احمد
Hukuman Peminum Khamr
عَنْ اَنَسٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص اُتِيَ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ اْلخَمْرَ
فَجُلِدَ بِجَرِيْدَتَيْنِ نَحْوَ اَرْبَعِيْنَ، قَالَ: وَ فَعَلَهُ اَبُوْ بَكْرٍ.
فَلَمَّا كَانَ عُمَرُ اسْتَشَارَ النَّاسَ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمنِ بْنُ عَوْفٍ:
اَخَفُّ اْلحُدُوْدِ ثَمَانِيْنَ فَاَمَرَ بِهِ عُمَرُ. احمد و مسلم و ابو داود و الترمذى و صححه
Senin, 07 Desember 2015
Boleh minum perasan kurma atau anggur selama tidak menjadi khamr (belum rusak)
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كُنَّا نَنْبُذُ لِرَسُوْلِ اللهِ ص فِى
سَقَاءٍ فَنَأْخُذُ قَبْضَةً مِنْ تَمْرٍ وَ قَبْضَةً مِنْ زَبِيْبٍ
فَنَطْرَحُهُمَا، ثُمَّ نَصُبُّ عَلَيْهِ
اْلمَاءَ فَنَنْبُذُهُ غُدْوَةَ فَيَشْرَبُهُ عَشِيَّةً وَ نَنْبُذُهُ
عَشِيَّةً فَيَشْرَبُهُ غُدْوَةً. ابن ماجه
Khamr tidak boleh dijadikan cuka
عَنْ اَنَسٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص سُئِلَ عَنِ اْلخَمْرِ يُتَّخَذُ خَلاًّ
فَقَالَ: لاَ. احمد و مسلم و ابو داود و الترمذى و صححه
Dari
Anas, bahwa Nabi SAW ditanya tentang khamr yang dijadikan cuka, lalu beliau
menjawab, "Tidak boleh".
[HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi, dan ia
menshahihkannya]
Minggu, 06 Desember 2015
Khamr yang telah diharamkan oleh Allah tidak boleh dijual ataupun dihadiahkan
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ لِرَسُوْلِ اللهِ ص صَدِيْقٌ مِنْ
ثَقِيْفٍ وَ دَوْسٍ فَلَقِيَهُ يَوْمَ اْلفَتْحِ بِرَاحِلَةٍ اَوْ رَاوِيَةٍ مِنْ
خَمْرٍ يُهْدِيْهَا اِلَيْهِ فَقَالَ: يَا فُلاَنُ اَمَا عَلِمْتَ اَنَّ اللهَ
حَرَّمَهَا؟ فَاَقْبَلَ الرَّجُلُ عَلَى غُلاَمِهِ فَقَالَ: اِذْهَبْ فَبِعْهَا.
فَقَالَ رَسُوْلُ
Sabtu, 05 Desember 2015
Minum khamr walaupun sedikit, hukumnya tetap haram
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: مَا اَسْكَرَ كَثِيْرُهُ
فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ. احمد و ابن ماجه و الدارقطنى و صححه
Dari
Ibnu Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Minuman yang dalam jumlah banyak
memabukkan, maka sedikitpun juga haram".
[HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Daruquthni, dan dia
menshahihkannya]
Kamis, 03 Desember 2015
Segala Yang Memabukkan Hukumnya Haram
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: َاْلخَمْرُ مِنْ
هَاتَيْنِ الشَّجَرَتَيْنِ: النَّخْلَةِ وَ اْلعِنَبَةِ. الجماعة الا الترمذى
Dari
Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Khamr itu (dibuat) dari dua pohon
ini : kurma dan anggur".
[HR. Jama'ah, kecuali Tirmidzi]
Rabu, 02 Desember 2015
Larangan Minum Khamr
Pada
mulanya khamr adalah minuman keras yang terbuat dari kurma dan anggur. Tetapi
karena dilarangnya itu sebab memabukkan, maka minuman yang terbuat dari bahan
apasaja (walaupun bukan dari kurma atau anggur) asal itu memabukkan, maka
hukumnya sama dengan khamr, yaitu haram diminum.
Senin, 23 November 2015
Syarat-syarat yang berhubungan dengan alat untuk berburu
Alat
yang dapat dipergunakan untuk berburu ini ada 2 macam, yaitu
:
1. Senjata tajam yang dapat melukai dan menembus
kulit binatang buruan.
2. Binatang-binatang yang terlatih untuk
berburu.
A. Adapun syarat-syarat alat untuk berburu yang
berupa senjata tajam, seperti: tombak, panah, dan lain sebagainya itu ialah,
senjata tersebut dapat menembus kulit, sehingga binatang buruan tersebut mati
karena luka-luka yang ditimbulkannya dan bukan mati karena berat/kerasnya alat
tersebut.
Perhatikanlah
sabda Nabi SAW berikut ini :
عَنْ عَدِيٍّ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ صَيْدِ
اْلمِعْرَاضِ فَقَالَ: اِذَا اَصَبْتَ بِحَدِّهِ فَكُلْ وَ اِذَا اَصَبْتَ
بِعَرْضِهِ فَقَتَلَ فَاِنَّهُ وَقِيْذٌ فَلاَ تَأْكُلْ. البخارى
Dari
'Adiy, ia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah SAW
tentang berburu dengan mi'radl (tongkat yang ujungnya dari besi yang tajam),
maka beliau bersabda, "Apabila kamu dapat membunuhnya dengan ujung mi'radl
tersebut, makanlah. Namun apabila engkau membunuhnya dengan batang mi'radl, yang
demikian itu termasuk mati sebab dipukul, maka jangan kamu
makan".
[HSR. Bukhari]
اِذَا رَمَيْتَ بِاْلمِعْرَاضِ فَخَزَقَ فَكُلْ وَ مَا اَصَابَ
بِعَرْضِهِ فَلاَ تَأْكُلْ. متفق عليه
Apabila
kamu melempar dengan mi'radl, lalu dapat menembus (melukai) kulit, maka
makanlah. Tetapi jika yang mengenai itu batang mi'radl, maka janganlah kamu
makan.
[HR. Muttafaq 'alaih]
اِذَا رَمَيْتَ فَسَمَّيْتَ فَخَزَقْتَ فَكُلْ وَ اِنْ لَمْ يَتَخَزَّقْ
فَلاَ تَأْكُلْ. وَ لاَ تَأُكُلْ مِنَ اْلمِعْرَاضِ اِلاَّ مَا ذَكَّيْتَ، وَ لاَ
تَأْكُلْ مِنَ اْلبُنْدُقَةِ اِلاَّ مَا ذَكَّيْتَ. احمد
Apabila
kamu melepas (alat berburu) dengan mengucap bismillah dan dengannya kamu dapat
melukainya, maka makanlah, dan jika tidak terlukai, maka janganlah kamu
memakannya.
Dan janganlah kamu makan (apa-apa yang diburu) dengan (batang)
mi'radl kecuali jika kamu dapat menyembelihnya, dan jangan kamu makan (apa-apa
yang diburu) dengan bunduqah (plintheng), kecuali jika kamu dapat
menyembelihnya.
[HSR. Ahmad]
Keterangan
:
Yang
dimaksud "bunduqah" dalam hadits tersebut adalah ketapel (plintheng),
yang biasa dipergunakan oleh anak-anak untuk berburu burung dan sebagainya, yang
pelurunya terbuat dari batu kerikil atu tanah liat yang dikeringkan, dan
dilontarkan dengan jari-jari tangan kiri dan kanan.
Buruan
yang diburu dengan alat ini bila mati, haram hukumnya untuk dimakan, karena alat
ini membunuh tanpa menimbulkan luka, tetapi hanya meremukkan anggota bagian
dalam dari binatang tersebut, sehingga sama dengan
"yang mati dipukul".
Adapun
senjata api, senapan atau bedil, boleh pula
dipergunakan untuk berburu, karena pelurunya lebih dapat menembus kulit
dibanding dengan panah, tombak dan sebagainya.
B. Adapun syarat-syarat bagi alat berburu yang
berupa binatang pemburu seperti anjing, burung rajawali, burung elang dan lain
sebagainya, antara lain :
* Binatang-binatang tersebut telah dididik dan
dilatih untuk berburu, dan telah nampak kelebihan dan keistimewaannya dibanding
dengan binatang sejenis yang lain karena hasil didikan itu, seperti bila
diperintah menurut, bila dilarang mau berhenti dan bila dipanggil
datang.
* Binatang-binatang tersebut menangkap hasil
buruan itu benar-benar untuk tuannya dan bukan untuk dirinya
sendiri.
Dalil-dalil
pelaksanaan :
يَسْاَلُوْنَكَ مَا ذَآ اُحِلَّ لَهُمْ، قُلْ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيّبتُ
وَ مَا عَلَّمْتُمْ مّنَ اْلجَوَارِحِ مُكَلّبِيْنَ تُعَلّمُوْنَهُنَّ مِمَّا
عَلَّمَكُمُ اللهُ فَكُلُوْا مِمَّآ اَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَ اذْكُرُوا اسْمَ
اللهِ عَلَيْهِ. المائدة:4
Mereka
bertanya kepadamu (Muhammad), "Apakah yang dihalalkan untuk mereka ?". Katakanlah, "Telah dihalalkan
padamu yang baik-baik dan apa-apa yang kamu ajar dari binatang-binatang
penangkap yang terdidik, yang kamu ajar mereka dari apa-apa yang Allah telah
mengajarkan kepadamu. Maka makanlah dari apa-apa yang
mereka tangkap untuk kamu dan sebutlah asma Allah atasnya".
[QS. Al-Maidah : 4]
اِذَا اَرْسَلْتَ اْلكَلْبَ فَاَكَلَ مِنَ الصَّيْدِ فَلاَ تَأْكُلْ
فَاِنَّمَا اَمْسَكَ عَلَى نَفْسِهِ فَاِذَا اَرْسَلْتَهُ فَقَتَلَ وَ لَمْ
يَأْكُلْ فَكُلْ فَاِنَّمَا اَمْسَكَهُ عَلَى صَاحِبِهِ. احمد و مثله فى الصحيحين
Jika
kamu melepaskan anjing, kemudian dia makan binatang buruan itu, maka jangan kamu makan
dia, sebab berarti dia itu menangkap untuk dirinya sendiri. Tetapi jika kamu
melepaskannya kemudian dapat membunuh dan tidak memakannya, maka makanlah,
karena dia itu menangkap untuk tuannya.
[HR. Ahmad, dan diriwayatkan pula yang seperti itu oleh Bukhari dan
Muslim]
Jumat, 20 November 2015
Syarat-syarat yang berkenaan dengan binatang buruan
a. Keadaan binatang tersebut tidak memungkinkan
untuk disembelih pada lehernya. Hal ini dapat terjadi karena beberapa sebab
antara lain :
- Karena terlalu liar sehingga sukar untuk
ditangkap.
- Karena buas, sehingga berbahaya bila hendak
ditangkap dan disembelih sebagaimana biasa.
Keadaan-keadaan diatas atau lain-lain
keadaan yang semisal, menjadikan binatang-binatang itu
Langganan:
Postingan (Atom)