Jumat, 29 Januari 2016

Kekacauan tentara Quraisy di tengah jalan

Diriwayatkan, bahwa dalam perjalanan dikalangan tentara Quraisy telah timbul kekacauan yang hebat.
Bermula setelah angkatan perdagangan Quraisy yang dikepalai oleh Abu Sufyan telah dapat melepaskan diri dari kejaran pasukan kaum Muslimin,
maka ketika sampai di dusun Juhfah, lalu Abu Sufyan menyuruh seseorang supaya menyusul tentara Quraisy dan mengkhabarkan kepada kepala tentara Quraisy bahwa Abu Sufyan meminta supaya tentara Quraisy kembali saja, jangan sampai meneruskan perjalanannya, karena apa yang dijaganya telahterlepas dari bahaya yang dikhawatirkan. Tetapi permintaan Abu Sufyan itu ditolak dengan keras dan penuh kesombongan oleh kepala pasukan Quraisy Abu Jahl bin Hisyam.
Abu Sufyan setelah menerima khabar penolakan Abu Jahl yang begitu sombong dan congkak itu, lalu berkata, “Inilah orang yang kelewat batas. Orang yang semacam itu tentu akan celaka dan akhirnya akan jatuh”.
Kemudian terjadi lagi satu keonaran yang hebat, yaitu : Juhaim bin Ash-Shalt, seorang dari Bani Abdul Muththalib yang ikut menjadi tentara Quraisy ketika berada di Juhfah, ia tertidur. Sewaktu terbangun ia berkata kepada kawannya, “Saya baru saja mimpi, antara tidur dan jaga tiba-tiba saya melihat seorang laki-laki yang berkendaraan kuda dan membawa unta, lalu berhenti di muka saya”.
Juhaim bin Ash-Shalt lalu berkata, “ ‘Utbah bin Rabi’ah akan mati terbunuh, begitu juga Syaibah bin Rabi’ah, Abul Hakam bin Hisyam (Abu Jahl), Umayyah bin Khalaf, Sifulan dan sifulan. Dia menyebutkan satu persatu tokoh-tokoh Quraisy  yang terbunuh pada perang Badar”.
Juhaim lalu melanjutkan cerita mimpinya, “Lalu orang tadi memukul unta pada tengkuk lehernya sehingga mengeluarkan darah yang banyak, dan unta tersebut lalu dilepaskan. Maka unta itu lalu berlari ke sana ke mari di tengah-tengah tentara Quraisy. Darah unta tersebut mengenai kemah-kemah tentara Quraisy, sehingga tidak ada satu  pun kemah tentara Quraisy yang tidak terkena darah”.
Kawan-kawan Juhaim yang mendengar perkataan semacam itu lalu menyahut, “Ah, itu omong kosong. Semuanya itu dari godaan syaitan saja”.
Kemudian apa yang dikatakan oleh Juhaim tadi terdengarlah oleh Abu Jahl, ‘Utbah dan lain-lainnya. Abu Jahl lalu datang menemui Juhaim seraya berkata, “Hai Juhaim, saya dengar katanya kamu mendatangkan khabar dusta kepada orang-orang banyak. Kamu akan tahu sendiri nanti, siapa yang akan mati terbunuh. Siapa yang akan kocar-kacir. Dan nanti mesti kamu akan melihat sendiri, siapa yang terbunuh, saya ataukah Muhammad”.
Selanjutnya Abu Jahl berkata kepada orang banyak, “Inilah Nabi dari Bani Muththalib”. Demikian perkataan Abu Jahl dengan sombongnya. Maka ketika itu dari sebab pengaruh Abu Jahl, sebagian besar dari tentara Quraisy timbul kebencian kepada Juhaim bin Ash-Shalt.
Kemudian timbul pula kejadian yang lain lagi di tengah perjalanan tentara Quraisy. Di antara tentara Quraisy pada waktu itu ada segolongan pasukan yang orang-orangnya terdiri dari kaum Bani Zuhrah yang dikepalai oleh seorang yang bernama Akhnas bin Syuraiq, banyaknya + 100 orang.
Ketika itu Akhnas berkata, “Jika kita mengikut kemauan Abu Jahl, kita akan mendapat kerugian yang banyak. Sekarang buat apa kita mengikut kemauan orang yang sombong !. Akhnas lalu mengumpulkan kaumnya lebih kurang 100 orang tersebut dan diberitahu, Akhnas berkata, “Hai Bani Zuhrah ! Sekarang oleh karena Tuhan telah menyelamatkan harta benda dan pimpinan kita dari kejaran kaum Muhammad, angkatan perdagangan kita yang dikepalai oleh Abu Sufyan sekarang telah sampai di Makkah, pada hal kita keluar dari Makkah ini sengaja untuk menjaga keamanan angkatan perdagangan kita dfan menjaga Makhramah bin Naufal. Maka sekarang telah selamat semuanya, maka lebih baik kita kembali (pulang) saja, sebab sudah tidak berguna lagi bagi kita meneruskan perjalanan ini, dan akan sia-sia jika kita sampai bertempur dengan Muhammad”.
Akhnas memang seorang kepala dari Bani Zuhrah, maka sudah barang tentu semua perkataannya diikuti oleh kaumnya. Abu Jahl setelah mendengar perkataan Akhnas kepada kaumnya, lalu marah-marah kepadanya. Abu Jahl berkata kepadanya, “Mengapa kamu berani berkata kalau kamu sampai bertempur dengan Muhammad, kamu menganggap sia-sia ?.
Akhnas menjawab, “Ya, sudah tentu. Kita masing-masing keluar dari Makkah ini tidak untuk bertempur dengan Muhammad dan kaumnya. Tetapi untuk menjaga angkatan perdagangan kita, maka dari itu apa gunanya kita bertempur dengan Muhammad ?.
Abu Jahl berkata, “Sekalipun begitu, apakah kamu tidak mengerti, bahwa Muhammad itu seorang pendusta besar, penyesat orang banyak dan penipu yang licin”.
Akhnas berkata, “Saya mengerti. Tetapi pengertian saya tidak seperti pengertianmu. Saya mengerti bahwa Muhammad itu seorang yang terpercaya. Dia dari sejah kecil telah terkenal dengan nama “Al-Amin” bukan “Al-Khain”.

Kemudian Abu Jahl dan Akhnas bertengkar mulut, dan makin lama semakin ramai, lalu Akhnas mengundurkan diri. Dan akhirnya Akhnas membelakangkan diri dari barisan Quraisy bersama kaumnya, kemudian terus pulang ke Makkah. Jadi dalam peperangan di Badr, tidak ada seorang pun dari Bani Zuhrah yang ikut berperang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar