Senin, 21 Desember 2015

Perpalingan Qiblat

Menurut riwayat, bahwa sejak hijrah ke Madinah jika mengerjakan shalat, Nabi SAW menghadap ke Baitul Maqdis, sampai lebih kurang 16 bulan lamanya.

Selama itu Nabi SAW seringkali mengharapkan mudah-mudahan Allah menyuruh beliau menghadap ke Baitullah (Ka'bah). Maka beliau kerap kali menghadapkan muka ke langit sambil memohon kepada Allah, mudah-mudahan Allah segera memindahkan qiblat shalat bagi beliau dan kaum muslimin dari qiblat kaum Yahudi. Kemudian ketika Nabi SAW mengerjakan shalat dan sedang ruku', tiba-tiba Allah menurunkan wahyu kepada Nabi SAW :
قَدْ نَرى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَآءِ، فَلَنُوَلّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضهَا، فَوَلّ وَجْهَكَ شَطْرَ اْلمَسْجِدِ اْلحَرَامِ، البقرة:144
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu (Muhammad) menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke qiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke Masjidil Haram (Baitullah)". [QS. Al-Baqarah 144]
Menurut riwayat yang masyhur bahwa ketika itu Nabi SAW tengah mengerjakan shalat 'Ashar bersama sahabat-sahabatnya. Dan seketika itu juga Nabi SAW memalingkan mukanya ke Baitullah. Semua sahabat-sahabat yang makmum ketika itupun lalu mengikuti apa yang dikerjakan Nabi SAW.
Setelah kejadian perubahan qiblat tersebut, timbullah berbagai ejekan dan cercaan dari kaum Yahudi, kaum munafiqin dan kaum musyrikin di Makkah. Ejekan mereka itu memang suatu fitnah kepada kaum muslimin, mereka sengaja hendak menghina Nabi SAW, maka Allah menurunkan wahyu kepada beliau :
سَيَقُوْلُ السُّفَهَآءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلّهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِيْ كَانُوْا عَلَيْهَا، قُلْ ِللهِ اْلمَشْرِقُ وَ اْلمَغْرِبُ، يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ اِلى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ. وَكَذلِكَ جَعَلْنكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لّـتَكُوْنُوْا شُهَدَآءَ عَلَى النَّاسِ وَ يَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا، وَ مَا جَعَلْنَا اْلقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَا اِلاَّ لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلى عَقِبَيْه، وَ اِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلاَّ عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللهُ، البقرة:142-143
Orang-orang yang kurang akal diantara manusia akan berkata, "Apakah yang memalingkan mereka (ummat Islam) dari qiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya ?" Katakanlah, "Kepunyaan Allah lah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. Dan demikianlah pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan qiblat yang menjadi qiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan qiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah". [QS. Al-Baqarah : 142-143]
Kemudian, suatu ketika Nabi SAW mendapat pertanyaan dari sebagian shahabat-shahabatnya, "Ya Rasulullah, bagaimana hukumnya mereka yang telah wafat lebih dahulu sebelum terjadi perpindahan qiblat ini ? Apakah amal mereka yang sudah-sudah diterima oleh Allah ?".
Pada waktu itu Nabi SAW tidak memberi jawaban atas pertanyaan tersebut. Kemudian Allah menurunkan wahyu kepada Nabi SAW.
وَ مَا كَانَ اللهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ، اِنَّ اللهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. البقرة:143
Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia . [QS. Al-Baqarah : 143]

Demikianlah riwayat perubahan qiblat dari Baitul Maqdis ke Baitullah (Ka'bah).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar