Senin, 21 Desember 2015

Perintah Puasa Ramadhan

Menurut riwayat, bahwa Nabi SAW dan sahabat-sahabatnya sebelum mendapat perintah Allah supaya mengerjakan puasa bulan Ramadlan, pada masa itu Nabi dan kaum muslimin telah mengerjakan puasa tiga hari pada tiap-tiap bulan. Yakni pada tanggal 13, 14 dan 15, dan pada tiap tanggal 10 bulan (Muharram). Kemudian pada bulan Sya'ban tahun kedua hijrah, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi SAW :

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. اَيَّامًا مَّعْدُوْدتٍ، فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا اَوْ عَلى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ، وَ عَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَه فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ، فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَه، وَ اَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ اُنْزِلَ فِيْهِ اْلقُرْانُ هُدًى لّلنَّاسِ وَ بَيّنتٍ مّنَ اْلهُدى وَ اْلفُرْقَانِ، فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ، وَ مَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ، يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ اْليُسْرَ وَ لاَ يُرِيْدُ بِكُمُ اْلعُسْرَ، وَلِتُكْمِلُوا اْلعِدَّةَ وَ لِتُكَبّرُوا اللهَ عَلى مَا هَدـكُمْ وَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. البقرة:183-185
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (183) (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (184) (beberapa hari yang ditentukan itu) ialah bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka  (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur. (185). [QS. Al-Baqarah : 183-185]

Demikianlah, maka mulai bulan Ramadlan tahun itu juga (2 Hijrah) Nabi SAW bersama para shahabat melaksanakan shaum Ramadlan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar