Selasa, 17 November 2015

Sikap Kaum Yahudi dalam Menyembunyikan Kebenaran.

Diriwayatkan, bahwa Mu'adz bin Jabal, Sa'ad bin Mu'adz dan Kharijah bin Zaid pernah bertanya kepada segolongan pendeta-pendeta Yahudi tentang sebagian apa yang terkandung dalam Taurat, tetapi mereka menyembunyikannya dan enggan memberitahukannya kepada para shahabat Nabi itu.

Memang para ketua Yahudi pada umumnya telah mengingkari tentang keadaan Nabi-nabi mereka yang mengkhabarkan dan menggembirakan akan datangnya Nabi Muhammad SAW dan kerasulannya. Mereka biasa mengatakan bahwa nabi-nabi mereka ada mengkhabarkan sebagiannya akan kedatangan sebagian yang lain, sedang dalam urusan itu mereka tidak pernah memberikan khabar, bahwa akan ada seorang Nabi yang akan diutus dari golongan bangsa Arab, dari keturunan Isma'il. Maka sehubungan dengan sikap pendeta Yahudi itu, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi SAW :
اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلْنَا مِنَ اْلبَيّنَاتِ وَ اْلهُدى مِنْ بَعْدِ مَا بَيّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِى اْلكِتبِ، اُولئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللهُ وَ يَلْعَنُهُمُ اللّعِنُوْنَ. البقرة:159
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yangjelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluq) yang dapat melaknati. [QS. Al-Baqarah : 159]
Dan diriwayatkan pula, bahwa para ketua dan para ulama kaum Yahudi pada umumnya pada waktu itu biasa mendapat hadiah atau pemberian yang berupa bahan makanan dan sebagainya dari kaum pengikut mereka, dan selama itu pula mereka senantiasa mengharap-harap agar supaya lekas dibangkitkan seorang Nabi akhir zaman. Dalam sangkaan mereka dikala itu bahwa Nabi akhir zaman yang akan dibangkitkan itu adalah dari keturunan Israil juga, karena begitulah kebiasaan dari kebanyakan para Nabi. Maka tatkala Nabi Muhammad SAW telah dibangkitkan, yangmana beliau bukan dari keturunan Israil sebagaimana yang telah lama mereka sangka, maka mereka khawatir akan kehilangan hadiah atau pemberian yang biasa diterima dari para pengikut mereka, dan takut pula akan kemerosotan kedudukan mereka selaku ketua dan ulama Yahudi yang telah biasa dihormati oleh kebanyakan orang yang ada di dalam lingkungan masyarakat mereka. Oleh sebab itu dan lain-lain sebab lagi, maka mereka berani menyembunyikan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW dan keterangan-keterangan akan datangnya beliau itu.
Sehubungan dengan adanya peristiwa yang sedemikian itu, Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi SAW :
اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلَ اللهُ مِنَ اْلكِتبِ وَ يَشْتَرُوْنَ بِه ثَمَنًا قَلِيْلاً اُولئِكَ مَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ اِلاَّ النَّارَ وَ لاَ يُكَلّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَ لاَ يُزَكّيْهِمْ وَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ. البقرة:174
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari qiyamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. [QS. Al-Baqarah : 174]

Demikianlah cara dan sikap kaum Yahudi dalam menyembunyikan kebenaran yang telah diturunkan oleh Allah kepada Nabi Musa yang sebenarnya telah mereka ketahui.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar