Senin, 16 November 2015

Sebagian dari Ketua Yahudi Hendak Membinasakan Nabi SAW

Diriwayatkan, bahwa pada suatu waktu salah seorang shahabat Nabi SAW bernama 'Amr bin Umayyah Adl-Dlamriy membunuh doa orang Yahudi dari Banu Sulaim, dengan tidak disengaja. 'Amr membunuh dua orang tadi di tengah jalan, dan dia tidak mengetahui bahwa kedua orang itu dari kaum Yahudi yang dikala itu masih ada ikatan perjanjian keamanan dari Nabi SAW. Kemudian golongan orang Yahudi yang terbunuh itu mengadukan peristiwa tersebut kepada Nabi SAW dan mengajukan permintaan diyatnya (tebusannya).

Oleh karena Nabi SAW pernah mengadakan perjanjian pershahabatan dan perdamaian dengan kaum Yahudi, yang antara lain harus tolong-menolong atau bantu-membantu dalam kesusahan dan kesulitan, maka beliaupun pergi ke kampung Yahudi Banu Nadlir. Kepergian beliau diantar oleh sebagian para shahabatnya, antara lain Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman dan 'Ali, dan kepergian beliau itu untuk meminta bantuan guna membayar diyat orang yang terbunuh tersebut, sebagaimana bunyi perjanjian mereka.
Ketika Nabi SAW menemui sebagian dari ketua-ketua kaum Yahudi Banu Nadlir dan menyatakan tujuan kedatangan beliau kepada mereka, maka mereka itupun menunjukkan kebaikan dan keramahannya, dan menyatakan persetujuannya, yang seolah-olah mereka bersedia dan suka membantu kepada Nabi SAW. Maka Nabi SAW dipersilakan duduk untuk menunggu mereka, karena mereka mengatakan akan mengumpulkan bantuan itu.
Dalam satu riwayat dikatakan bahwa diantara mereka ada yang mengatakan, "Bahkan ya Abal Qasim, sudah lama kita tidak bertemu dan baru sekarang ini engkau datang meminta pertolongan kepada kami. Duduklah engkau sejenak, karena kami ingin menjamu engkau terlebih dulu, dan sehabis makan nanti kami akan memberikan pertolongan dan permintaanmu".
Tetapi mereka berlaku yang demikian itu dengan mengandung maksud tertentu, yaitu mencari kesempatan untuk membinasakan beliau.
Huyaiyyi bin Akhthab, seorang ketua Yahudi Banu Nadlir yang terkenal amat memusuhi Nabi SAW ketika itu telah berkata kepada beberapa orang dari kaumnya, bahwa mereka supaya mengambil batu besar dan supaya dijatuhkan dari atas tepat mengenai kepala Nabi SAW yang sedang duduk. Maka Nabi SAW ketika itu dipersilakan duduk dan dijamu sambil diajak bicara bermacam-macam soal. Mereka melakukan demikian itu sebagai tipu muslihat supaya mereka sempat mengambil dan mengangkat sebuah batu besar ke atas rumah.
Tetapi maksud mereka yang sejahat itu diketahui oleh Allah, maka Allah memberitahu kepada Nabi SAW sebelum mereka sempat melakukan kehendaknya yang sangat jahat itu. Dan Nabi SAW seketika itu keluar dan meninggalkan tempat itu dengan tidak berkata sepatah katapun kepada mereka, dan pulang dengan diikuti oleh para shahabat yang mengantar beliau.
Dengan demikian, maka maksud mereka yang sejahat itu telah gagal.
Sehubungan dengan peristiwa tersebut Allah menurunkan wahyu kepada Nabi SAW :
ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا اذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ اِذْ هَمَّ قَوْمٌ اَنْ يَبْسُطُوْا اِلَيْكُمْ اَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ اَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَ اتَّقُوا اللهَ، وَ عَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ اْلمُؤْمِنُوْنَ. المائدة:11

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, diwaktu suatu kaum bermaksud memggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal. [Al-Maidah : 11]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar