Senin, 23 November 2015

Kedatangan para utusan kaum Nashrani Najran (Yaman) ke Madinah dan perdebatan mereka dengan Nabi SAW

Pada waktu kaum Yahudi di Madinah sedang ramai membicarakan tentang kemajuan dakwah agama yang dibawa Nabi SAW dan perselisihan antara Nabi SAW dengan para pendeta mereka, tiba-tiba datanglah utusan kaum Nashrani Najran (Yaman) yang terdiri dari 60 orang berkendaraan dan dengan keadaan yang serba mewah.
Diantara 60 orang tersebut ada 14 orang dari golongan bangsawan mereka, dan diantara 14 orang itu ada 3 orang yang terkemuka. Adapun nama-nama 14 bangsawan dan pemuka mereka itu ialah : 1. Al-'Aaqib (Abdul Masih), 2. As-Sayyid (Al-Aiham), 3. Abu Haritsah bin 'Alqamah, 4. Aus, 5. Al-Haarits, 6. Zaid, 7. Qais, 8. Yazid, 9. Nubaih, 10. Khuwailid, 11. 'Amr, 12. Khalid, 13. Abdullah dan, 14. Yuhannas.
Al-'Aaqib sebagai kepala rombongan dan penasehat mereka yang tertinggi, mereka tidak mengemukakan suatu urusan dan memutuskan suatu perkara melainkan dari nasehatnya. Sedang As-Sayyid sebagai pemimpin mereka yang bertanggungjawab mengenai kesulitan-kesulitan mereka. Dan Abu Haritsah sebagai pembesar pendeta atau ulama mereka yang tertinggi dan yang berhak memberikan pengajaran agama kepada mereka. Para raja Rum yang beragama Kristen dikala itu sangat menghormati dan memuliakan kepadanya dan mendirikan gereja-gereja untuknya.
Diriwayatkan, bahwa kedatangan mereka ke kota Madinah itu dengan berkendaraan. Mereka lalu masuk ke masjid Nabi SAW dan masing-masing dengan memakai pakaian negeri Yaman yang indah, memakai jubah dan ridak (selendang) dari sutera, serta memakai cincin emas di tangan mereka. Kemudian mereka mengerjakan shalat di dalam masjid. Ketika itu ada diantara shahabat Nabi SAW yang berkata, "Kami belum pernah melihat rombongan yang seperti mereka itu". Lalu Nabi SAW bersabda, "Biarkanlah mereka itu mengerjakan shalat cara mereka". Dan mereka itu shalat menghadap ke arah timur. Sehabis shalat, mereka menghadap kepada Nabi SAW.
Diriwayatkan, setelah mereka berhadapan dengan Nabi SAW, lalu pendeta mereka berbicara dan bertanya-jawab dengan Nabi SAW tentang soal ketuhanan Nabi 'Isa, atau Nabi 'Isa dianggap putera Tuhan, atau tentang tiga Tuhan. Mereka mengemukakan alasan-alasan guna menguatkan kepercayaan mereka kepada tiga Tuhan, tetapi satu demi satu, alasan mereka dijawab oleh Nabi SAW dengan jelas. Karena Nabi SAW dikala itu diberi wahyu oleh Allah yang mengandung beberapa puluh ayat (ada ulama tarikh yang berpendapat dari ayat 1 s/d 80 surat Ali Imran diturunkan berkenaan dengan kaum Nashrani Najran tersebut). Diantaranya, firman Allah SWT :
اِنَّ مَثَلَ عِيْسى عِنْدَ اللهِ كَمَثَلِ ادَمَ، خَلَقَه مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَه كُنْ فَيَكُوْنُ. َاْلحَقُّ مِنْ رَّبّكَ فَلاَ تَكُنْ مّنَ اْلمُمْتَرِيْنَ. ال عمران:59-60

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) "Isa pada sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam, Dia menciptakan Adam dari tanah, kemudian Dia berfirman kepadanya, "Jadilah (seorang manusia)", maka jadilah dia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. [QS. Ali Imran : 59-60]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar