Jumat, 11 Desember 2015

Tarikh Nabi Muhammad SAW (ke-59)

Dari penjelasan yang lalu, mengertilah kita bahwa jihad itu bukan hanya berperang di medan pertempuran saja, tetapi lebih luas lagi. Untuk melengkapi keterangan tersebut baiklah kita perhatikan penjelasan Syaikh Thanthawi Jauhari di dalam kitabnya "Al-Qur'an wal 'Ulumul 'Ashriyah" sebagai berikut
: Orang-orang yang kurang mengerti banyak yang menyangka bahwa jihad itu tidak lain hanyalah berperang melawan orang-orang kafir belaka. Sekali-kali tidak begitu ! Sebagaimana para ulama ahli hukum agama yang benar-benar mengerti telah menetapkan bahwa jihad itu tidaklah terbatas berperang melawan musuh belaka, tetapi mengandung arti, maksud dan tujuan yang sangat luas. Memajukan pertukangan, kerajinan, pertanian, membangun negara, mengusahakan ketinggian akhlaq dan memuliakan serta meninggikan derajat suatu ummat, itu semuanya termasuk jihad juga yang tidak kurang pentingnya daripada orang-orang yang mengangkat senjata melawan musuh".
Lebih lanjut beliau berkata : "Sesungguhnya barisan bala tentara yang berhadap-hadapan dengan musuh tidak akan kuat dan kuasa bertahan di atas kedudukannya kecuali di belakang mereka itu ada pemerintahan yang teratur rapi, yang mempunyai pabrik-pabrik senjata secara lengkap, mempunyai persediaan makanan yang cukup untuk dikirim ke medan peperangan. Maka dari itu barangsiapa yang menyangka bahwa kaum petani yang mengolah sawah ladangnya yang berusaha mengeluarkan segala apa yang ada, tukang-tukang besi dan pembuat-pembuat senjata dan alat-alat pengangkutan serta tukang-tukang kayu yang melengkapi alat-alat itu dan pembuat makanan untuk persediaan makanan bala tentara itu lebih rendah dan lebih sedikit pahalanya daripada bala tentara yang berjuang dan bertempur di medan pertempuran, maka ia adalah orang yang sangat bodoh tentang urusan agama dan tersesatlah pendapatnya itu, dan dia adalah orang yang lalai tentang Islam yang sebenarnya". Dan Nabi Muhammad SAW sendiri tatkala kembali dari salah satu peperangan telah bersabda, "Kita telah kembali dari perang yang kecil menuju perang yang lebih besar, ialah perang terhadap hawa nafsu".
Apakah hal itu bukan suatu petunjuk bagi kaum muslimin bahwa berperang melawan hawa nafsu itu lebih tinggi derajatnya daripada memerangi musuh (orang-orang kafir) ?
Adapun berperang melawan hawa nafsu ialah meninggalkan sifat dan kebiasaan malas, berusaha mengerjakan pembangunan-pembangunan, meninggikan derajat ummat, menjelajahi bumi untuk menuntut pengetahuan, mendidik ketinggian akhlaq dan sebagainya. Maka dari itu, orang yang mendidik dirinya sendiri supaya baik dan benar itu termasuk mujahid (orang yang berperang, berjihad) berusaha menjalankan pembangunan-pembangunan itu juga berjihad di muka bumi untuk mengetahui hal-hal yang berguna bagi kaum muslimin itu juga berjihad, dan orang alim yang ilmunya berguna bagi kaum muslimin, itupun berjihad pula.
Disamping uraian tersebut, di bawah ini kami kutipkan lagi satu riwayat dari Nabi SAW yang menunjukkan bahwa arti jihad itu tidak hanya berperang saja :
عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ رض قَالَ: مَرَّ عَلَى النَّبِيِّ ص رَجُلٌ فَرَأَى اَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ ص مِنْ جَلَدِهِ وَ نَشَاطِهِ. فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ لَوْ كَانَ هذَا فِى سَبِيْلِ اللهِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ، وَ اِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى اَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيْرَيْنِ فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ، وَ اِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ، وَ اِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى رِيَاءً وَ مُفَاخَرَةً فَهُوَ فِى سَبِيْلِ الشَّيْطَانِ. الطبرانى
Dari Ka'b bin 'Ujrah RA, ia berkata : Telah berlalu seorang laki-laki di hadapan Nabi SAW, lalu para shahabat Rasulullah SAW setelah melihat kekuatan dan ketangkasan orang itu mereka berkata, "Alangkah baik dan hebatnya jika orang ini ikut berjihad di jalan Allah". Maka Rasulullah SAW bersabda, "Jika ia keluar berusaha untuk anaknya yang masih kecil-kecil, maka ia di jalan Allah. Jika ia keluar berusaha untuk keperluan kedua orang tuanya yang sudah lanjut, maka ia di jalan Allah. Jika ia keluar berusaha untuk dirinya agar terpelihara kehormatannya, maka ia di jalan Allah. Dan jika ia keluar berusaha karena riya' dan bermegah diri, maka ia di jalan syaithan". [HR. Thabrani dengan rijal shahih]

Dengan hadits ini makin bertambah jelaslah bahwa arti jihad menurut Islam itu sangat luas sekali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar