Minggu, 07 Februari 2016

Pertempuran tentara Quraisy dengan tentara Islam

Setelah selesai pertandingan tersebut, lalu Nabi SAW keluar dari ‘arisy untuk mengatur barisan tentaranya sambil memberi pengarahan tentang cara-caranya orang melepaskan anak panahnya kepada musuh dan lain sebagainya.

Dan diriwayatkan bahwa Nabi SAW ketika mengatur barisan, beliau memukul seorang shahabat yang bernama Sawad bin Ghaziyah (Anshar) dengan tongkatnya, karena waktu Nabi SAW mengatur, ia beromong kosong dengan kawannya sambil dirinya keluar dari barisan yang tengah diatur dengan sebaik-baiknya. Beliau menegur, “Disiplinlah, hai Sawad”, beliau sambil memukul perut Sawad dengan tongkat. Lalu Sawad menjawab, “Ya Rasulullah, engkau diutus dengan membawa kebenaran dan keadilan, maka aku akan membalasmu”. Lalu Rasulullah SAW membuka bajunya dan bersabda, “Silakan membalas, hai Sawad”. Kemudian Sawad merangkul dan menciumi perut beliau. Lalu Nabi SAW bertanya, “Apa yang menyebabkan kamu berlaku demikian ?. Sawad menjawab, “Sungguh telah datang apa yang kamu lihat, maka aku menginginkan supaya akhir hayatku kulitku bisa bertemu dengan kulitmu”. Kemudian Rasulullah SAW mendoakan kebaikan untuknya.
Setelah selesai mengatur pasukan, beliau kembali ke ‘arisy bersama Abu Bakar, sedangkan shahabat Sa’ad bin Mu’adz berjaga di pintu ‘arisy dengan pedang terhunus. Lalu beliau SAW tidak henti-hentinya berdoa :
اَللّهُمَّ اَنْشُدُكَ عَهْدَكَ وَ وَعْدَكَ ، اَللّهُمَّ اِنْ شِئْتَ لَمْ تُعْبَدْ. نور اليقين:107
Ya Allah, hamba memohon kepada Engkau akan janji dan perjanjian Engkau. Ya Allah, jika Engkau berkehendak (mengalahkan pada hamba), Engkau tidak akan disembah. [Nurul Yaqin 107].
Dan dalam satu riwayat Nabi SAW menghadap ke qiblat dan berdoa :
اَللّهُمَّ اَنْجِزْ لِى مَا وَعَدْتَنِى، اَللّهُمَّ اِنْ تُهْلِكْ هذِهِ اْلعِصَابَةَ مِنْ اَهْلِ اْلاِسْلاَمِ فَلاَ تُعْبَدُ بَعْدُ فِى اْلاَرْضِ اَبَدًا. نور اليقين: 107
Ya Allah, sempurnakanlah kepadaku janji-Mu. Ya Allah, jika Engkau mengalahkan kaum muslimin, maka Engkau tidak akan disembah di bumi ini sesudah itu selamanya. [Nurul Yaqin : 107]
Beliau SAW terus-menerus berdoa kepada Allah sehingga selendangnya jatuh, kemudian Abu Bakar mengambilnya dan menyelempangkannya kembali sambil berkata, “Cukuplah ya Rasulullah, pasti Allah akan menyempurnakan janji-Nya kepadamu”. Kemudian Rasulullah SAW keluar dari ‘arisy dan bersabda sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Qamar ayat 45 :
سَيُهْزَمُ اْلجَمْعُ وَ يُوَلُّوْنَ الدُّبُرَ. القمر:45
Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke  belakang.
Diriwayatkan pula, bahwa sebelum terjadi pertempuran, Nabi SAW bersabda sambil berisyarat dengan tangannya, “Itu tempat bangkainya Abu Jahl, itu tempat binasanya si Fulan, ini tempat tewasnya si Fulan”, dan demikianlah selanjutnya. Adapun yang dimaksud dengan si Fulan dan si Fulan tadi ialah dari orang-orang Quraisy yang akan binasa dalam peperangan tersebut.
Selanjutnya Nabi SAW menyampaikan peringatan kepada segenap tentara muslimin, yang arinya, “Hai manusia, janganlah kamu mencita-citakan hendak bertempur dengan musuh, dan mohonlah ampunan kepada Allah. Akan tetapi jika kamu bertemu dengan musuh, hendaklah kamu bertahan (berani bertempur dengan musuh), dan ketahuilah olehmu, bahwa sesungguhnya surga itu di bawah naungan pedang”.
Menurut riwayat, Nabi SAW ketika itu juga berpesan kepada segenap tentaranya :
اِنِّى قَدْ عَرَفْتُ اَنَّ رِجَالاً مِنْ بَنِى هَاشِمٍ وَ غَيْرِهِمْ قَدْ اُخْرِجُوْا كُرْهًا لاَ حَاجَةَ لَهُمْ بِقِتَالِنَا. فَمَنْ لَقِيَ مِنْكُمْ اَحَدًا مِنْ بَنِى هَاشِمٍ فَلاَ يَقْتُلْهُ، وَ مَنْ لَقِيَ اَبَا اْلبُخْتُرِيِّ بْنَ هِشَامٍ فَلاَ يَقْتُلْهُ، وَ مَنْ لَقِيَ اْلعَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ اْلمُطَّلِبِ عَمَّ رَسُوْلِ اللهِ، فَلاَ يَقْتُلْهُ، فَاِنَّهُ اِنَّمَا اُخْرِجَ مُسْتَكْرَهًا.
Sesungguhnya saya mengetahui, bahwa beberapa orang lelaki dari Bani Hasyim dan lainnya, mereka itu dikeluarkan dengan paksaan (untuk berperang), padahal mereka itu tidak ada kemauan untuk memerangi kita. Oleh sebab itu, maka barangsiapa diantara kalian bertemu salah seorang dari bani Hasyim, janganlah ia membunuhnya. Barangsiapa bertemu dengan Abul Bukhturiy bin Hisyam janganlah ia membunuhnya. Dan barangsiapa bertemu dengan ‘Abbas bin Abdul Muththalib (paman Rasulullah SAW), maka janganlah ia membunuhnya. Karena sesungguhnya ia dikeluarkan untuk berperang dengan dipaksa.
Waktu Nabi SAW berpesan demikian itu, shahabat Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa begitu ? Tidakkah engkau telah menyuruh kami supaya membunuh ketua-ketua kami, orang-orang tua kami, anak-anak kami, saudara-saudara kami dan kawan-kawan kami yang masih dalam kemusyrikan ? Mengapa engkau melarang kami membunuh ‘Abbas ? Bukankah ia dari kaum musyrikin juga ? Demi Allah, jika saya bertemu dengan dia, tentu akan saya potong dengan pedang ini”.
Di kala itu Nabi SAW tetap berpesan, “Janganlah mereka itu dibunuh, karena mereka itu keluar dari kota Makkah mengikuti tentara musyrikin dengan dipaksa”.

Pesan Nabi SAW yang demikian itu karena beliau mengerti bahwa pada hakekatnya mereka itu tidak ada kemauan untuk berperang, memerangi kaum muslimin. Dan Abul Bukhturiy sekalipun termasuk pemuka Quraisy, tetapi bukanlah termasuk yang menganiaya Nabi. Bahkan dialah yang berdiri untuk merobek naskah pemboikotan yang pernah dilakukan segenap pemuka Quraisy terhadap Nabi dan pengikutnya serta bani Hasyim di Makkah dulu. Adapun ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib dikala itu meskipun pada lahirnya masih mengikut agama berhala, namun nampaknya Nabi SAW menginginkan bahwa ia nanti akan menjadi muslim. Dan dia pernah menguatkan perjajian rahasia yang pernah dilakukan Nabi dengan kaum ‘Aus dan Khajraj yang terkenal dengan baiatul ‘Aqabah. Demikianlah sebabnya Nabi SAW melarang mereka itu dibunuh mengingat jasa-jasa mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar